Selasa, 20 September 2016

Cerbung : Dewi Zakia Maharani (9)

.... Hari Minggu. Surganya hari-hari. Dimana setiap minggu kita bisa melakukan banyak hal. Ada yang berkebun, ada yang olah raga bahkan ada yang sengaja ke empang utk pergi memancing. Minggu membuat dunia menjadi lebih hidup. Karena di hari ini manusia banyak berinteraksi dengan alam. Tapi, gue bukan orang yang selalu punya plan untuk hari minggu. Paling banter kalo pagi-pagi gue nongkrong di jendela, minum kopi sambil sesekali liatin matahari menyusup diantara daun-daun yg bolong karena ulat yg nakal. Bagi gue menghabiskan waktu sendirian kaya gini terasa lebih manis daripada harus pergi keluar.

Seperti biasa, Minggu itu gue menghabiskan waktu seharian di kamar. Baca novel, maen game, dan tiduran. Gue ingin menikmati kemalasan yang indah ini seharian.

Kebetulan waktu itu  gue lagi namatin novel Aggelos karya dari Harry K. Peterson. Ceritanya fiksi gitu dan yang gue suka dari bukunya adalah cara si Harry membangkitkan setiap karakter, cara dia memunculkan masalah dalam setiap adegannya, menurut gue itu keren.

Ceritanya tentang seorang malaikat yang bernama slaven jatuh ke bumi dan hilang ingatan karena mencuri kotak musik ajaib dari surga milik lucifer. Lalu si tokoh utama, Viola di tembak hatinya oleh cupid sehingga dia berjodoh dengan slaven, namun hubungan asmara mereka sangat kompleks, cinta antara mahluk bumi dan mahluk langit yang rumit.

Yang gue suka adalah latar dari novel ini, yaitu selandia baru. Diceritakan dengan sangat apik oleh Harry K. Peterson ini tentang selandia baru yang indah. Oksigen bersih, danau yang jernih dan hal-hal lain yang membuat gue pengen banget kesana.

Waktu itu jam 8 Pagi. Kebetulan rumah lagi sepi. Semua orang di rumah lagi pada olahraga di alun-alun kota. Gue males, jadi gue memutuskan buat baca novel aja. Sedang asyik membaca, bel rumah berbunyi. Ah paling rena.

Pas pintu di buka, ternyata bener si rena. Gue sangat senang dia main kesini.
"San ! Numpang nonton kartun dong. Di rumah gue Tv nya rusak"
"Ooh nonton aja"

Sudah seperti rumah sendiri, rena pergi ke dapur lalu membuka kulkas dan mengambil beberapa makanan ringan.

"Lo kemana aja? Gue jadi jarang liat?" Tanya gue membuka percakapan
"Ya lo ngerti lah san. Gue terpukul banget. Tapi sekarang gue udah ikhlas kok"
"Yang sabar yah ren." Seru gue.
"Apaan si lo, kok jadi lebay gini"

Gue gak menjawab, hanya bisa menyaksikan rena yg manis dengan remah-remah cemilan di pipinya.

Lalu, bel kembali berbunyi. Ah paling bonyok baru balik dari alun-alun. Gue pergi ke depan pintu. Lalu pas gue buka pintu.

"Surepricee !!!" Dewi berdiri di depan gue dengan sepatu sport dan celana training. "Tadi aku abis lari sama temen aku, terus aku minta anter temen aku buat mampir kesini, nih aku bawain kamu kue apem dari pasar, pasti kamu suka !!"

"Ahaha, aduh jadi ngerepotin. Masuk yuk yang. Ada rena juga kok di dalem "
"emm ngga deh. Aku disini aja. Ngapain rena jam segini di rumah kamu?"
"Ooh dia tadi numpang nonton kartun, biasalah anak kecil, kebetulan dia tetangga aku, tuh rumahnya" Tunjuk gue ke rumah rena.
"oh gitu yah. Kok aku baru tau yah?"
"iya maaf, aku belum sempet cerita."
"Ya udah, Eh mamah papah kamu mana?"
"Oh mereka lagi ke alun-alun sama ade aku. Biasa lah."
"Ooh ya udah. Eh katanya kemaren kamu sakit. Gmna sekarang? Udah sembuh?"
"Udah ko. Tapi tadi malem sempet panas gitu sih." Dengan berbohong gue rasa gue bisa menghargai kekhawatiran dewi.
"oh pantes semalem sms aku gak kamu bales. Tapi sekarang udah sembuh kan?"
"Iya maaf ya. Emm mendingan sih"
"Iya gapapa. Eh yang, aku pulang dulu yah. Kasian temen aku udah nungguin."
"ooh yaudah. Hati-hati yah."
"Iya." Jawab dewi, namun dewi masih diam tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Kamu kenapa?" Tanya gue heran.

Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi gue.
"Aku sayang kamu. Sayaang banget"

Gue hanya diem. lalu senyum. Lalu membalas kecupannya.
"Aku juga sayang kamu"

Setelah itu dewi pulang dengan pipi yang menjadi ranum. Gue malambaikan tangan ke dewi.

Gue diem untuk beberapa saat dengan kue apem yang masih di tangan. Lalu, gue masuk, tapi rena mendadak cemberut dan buru-buru mau pulang.
"Eh lo mau kemana?"
"Gue mau pulang."
"Eh kenapa? Itu kartunnya belum selesai"
"Gamau nonton ! Kartunnya ngeselin." Dengan muka cemberut dan langkah yg cepat dia pergi.

Gue bingung.

Jangan-jangan ... Ah sial !

Minggu, 04 September 2016

Cerbung : Dewi Zakia Maharani (8)

... "Basonya enak yah yang" Seru dewi sambil mengelap bibirnya dengan tissue.
"eemmh iya iya. Enak." Jawab gue sekenanya
"Eh yang, kamu tau gak? Tadi di kantin aku ketemu sama si Nabila. Terus dia kaya nyindir aku gitu karena aku pacaran sama kamu."
"Ooh terus?" Jawab gue dgn muka datar tanpa ada motivasi sedikitpun untuk antusias.
"Iya, jadi dia bilang ke temennya 'eh gosipnya si jomblo udah pacaran sekarang' terus temennya ngejawab 'ah palingan cuma bentaran doang. Kapan sih dia pacaran lama' sambil matanya ngelirik ke aku yang.
"Terus?" Masih dengan muka yang datar.
"Terus aku diemin aja. Tapi pas dia mau keluar kantin, aku jegal aja kakinya. Terus dia jatoh. Hahaha. Malu banget tuh pasti si nabila."
"Hahaha" dengan ketawa yang hanya untuk menghargai ceritanya.

Sebenernya gak nyangka juga sih kalo cewe gue sebegitu parahnya kalo ngerjain orang. Seharusnya gue bangga, karena dia pasti asyik orangnya, tapi waktu itu, gue biasa aja.

"abis ini aku mau es krim dong. Udah gitu kita nongkrong di taman kota yah."
"Gimana kalo kita pulang aja? Lagian langit juga udah mulai mendung."
"kok pulang sih? Aku kan lagi kangen banget sama kamu. Kamu kenapa? Lagi bete yah? cerita dong."
"Ngga kok. Aku gak kenapa-napa. Aku cuma agak gak enak badan aja hari ini"

Alesan yang sangat klasik untuk menghindari pertanyaan yg tidak ingin kita jawab.

"ya ampun. Kamu sakit yah? Aduuh kita ke dokter yuk."
"Udahlah dew. Ga usah lebay"
"kok gitu sih ngomongnya?" dengan muka dewi yg tiba-tiba cemberut.
"mmmaksud aku, aku gapapa, cuma butuh istirahat aja. Maafin aku yah sayang."
"Kamu tuh ya, aku kan khawatir sama kondisi kamu." Lalu bibirnya yg cemberut itu, berubah jadi manyun-manyun manja.
"iya iya. Kita pulang yah sayang?" Ucap gue sambil mengelus kepalanya.
"Ayo. Kamu istirahat yah kalo sampe rumah. Kalo sampe keluyuran, Awas loh !"
"Iya baweel" Jawabku.

Lalu gue menghantar Dewi pulang ditemani oleh gerimis yang terasa hambar.

"Aku pulang yah. Maaf bgt hari ini aku ga bisa nemenin kamu."
"Ya udah gapapa. Yang penting kamu istirahat yah."

Seperti kebanyakan cerita di awal jadian, maaf adalah sesuatu yang murah dan gampang di dapat.

Selama di perjalanan, gue gak bisa fokus sama jalanan. Pikiran gue melambung ke tanda tanya yang entah apa itu. Gue memikirkan ada apa dgn gue sekarang. Kenapa gue gak terlalu bahagia sama dewi? Kenapa gerimis yang seharusnya manis menjadi hambar?. Sampai pada tanda tanya yang ke sejuta, gue masih belum tau jawabannya.


Sesampainya di rumah, gue langsung rebahan di kasur. Menatap langit-langit yang penuh dengan tanda tanya.  Lalu gerombolan partikel oksigen yg menjelma sebagai angin membuat gorden yg menempel di jendela kamar terasa hidup. Di luar, hujan menunjukkan magis luar biasanya.

"Rena, apa kabar yah dia sekarang?"

Selasa, 23 Agustus 2016

Cerbung : Dewi Zakia Maharani (7)

.... "San ..." dengan air mata yang menghujani pelukannya.
    
Ayah rena telah meninggal.

"Yang sabar yah ren"
"Gue gak bisa san. Gue gak bisa hidup tanpa ayah"

Gue diem. Yang bisa gue lakukan saat itu hanya membiarkan Rena dengan kesedihannya.

Setelah beberapa saat, jenazah di makamkan. Gue menemani Rena ke pemakaman ayahnya. Sepanjang jalan ke pemakaman, Rena tak mau berhenti menangis di pelukan gue. Begitulah cara kematian bekerja. Selalu menyisakan tangis yang mendalam untuk yang ditinggalkan. Jika di bilang kejam, ya, kematian memang kejam. Namun, bagaimana lagi, segala sesuatu yg hidup sudah hakikatnya mati.

Kasihan Rena. Dia adalah anak tunggal, setelah kepergian ayahnya dia pasti sangat merasa kesepian. Gue bisa bayangin bagaimana hidup tanpa seorang ayah di usia yang lagi sangat butuh dukungan moril dari sosok seorang ayah.

"San .." Suaranya parau
"Iya ren?"
"Gue hancur banget san" dengan mata yg masih terpaku pada makam ayahnya ia mencoba mengkomunikasikan kesedihannya ke gue.
"Iya gue ngerti ko. Yang sabar yah. Semoga ayah lo di terima di sisi-Nya."
"Gue ga bisa hidup tanpa ayah gue saan" Kembali air matanya memecah pemakaman yang hening itu.
"Iya iya ren, sok nangis dulu aja" gue mengusap punggungnya. Lalu membimbing kepalanya untuk rebahan di bahu gue.

Besoknya, ucapan turut berduka cita mengalir ke Rena. Sejak kematian ayahnya, Rena yang dulu jadi berubah. Dia jadi pendiem dan sering menyendiri. Semua orang yang kehilangan Rena yg dulu mengadu ke gue. Termasuk Dewi.

"San, itu si Rena kok jadi pemurung gitu" Kata Dewi dengan sekantung es teh yg dia pegang.
"Ya wajarlah. Namanya juga baru di tinggalin ayahnya, dia pasti sedih banget."
"Tapi aku ngerasa kasian aja, Rena yg sekarang bukan Rena yang dulu. Dia pasti butuh temen. Kamu kan temen deketnya, coba kamu samperin gih. Ajak ngobrol atau apa kek."
"Kamu gimana?"
"Aku kayanya balik ke kelas aja. Gak enak juga kan kalo aku tiba-tiba so akrab. Lagian kan dia juga belom tau kalo kita baru jadian."
"Ya udah, nanti aku nyusul ke kelas yah."
"Iya, daah"
"dadah"

Lalu gue menghampiri Rena.

"Hei Bocah" dengan nada riang gue menyapa rena.
"Eh san." Rena menjawab dengan dingin.
"Lagi ngapain? Sendirian aja kaya amoeba tau gak"
"Lagi diem aja. Btw selamat yah buat lo yg udah jadian sama dewi"
"Eh?! Emmm iya sama-sama. Tapi kok bisa tau?"
"Gue liat foto selfie lo pas nonton Maliq di instagramnya Dewi."
"Hehe" Gue ketawa canggung. "Sebenernya gue mau cerita ke lo, tapi belum ada waktu yang tepat aja. Hehe" Gue mendadak bego.
"Iya gapapa ko. Jagain dia dengan baik yah. Kaya lo ngejagain gue."
"Iya, gue pasti jagain dia. Tapi santey aja, gue akan selalu ada waktu buat lo kok. Kalo perlu ntar kita maen bareng ke kutub utara"
Rena senyum. "Apaan sih lo. Ga jelas"
"Nah gitu dong. Senyum kan cantik"

Tapi jujur, waktu itu senyumnya sangat manis.
Lalu kita berdua saling diem. Memandangi langit sekolah yg biru megah.

"Makasih yah." Rena tiba-tiba bersuara.
"Makasih untuk?"
"Untuk waktu yg lo habiskan buat gue."
Gue cuma menjawab dengan senyum. Berharap bahwa senyuman ini bisa lebih dari sekedar kata 'iya, sama-sama'.

Setelah itu, kita kembali ke kelas masing-masing.

Sepulang sekolah, seperti biasa gue keluar kelas bersama dewi. Menyusuri lorong sekolah dengan tangan yg saling bergandengan.
"Aku gamau pulang dulu. Aku gatau gimana ngomongnya, tapi aku bener-bener lagi pengen sama kamu banget." Ujar dewi.
"Emmm kalo aku mau gimana kalo aku gamau gimana?"
"IIh sandi, serius .."
"Iya iya. Baiklah, Nona Dewi mau kemana sekarang? Biarkan hamba dan kuda besi butut hamba yang antar."
"Aku mau Baso Mang Ade !"
"Laksanakan ! Perintah Nona adalah fardu aen untuk hamba"
"Haha." Dewi tertawa. "Apaan sih kamu san. Gemees deh" Ia mencubit pipiku.
"Aduuh ampun ampun nona"
"Yuk pergi !" Dewi berseru.
"Mari,"

Lalu gue memakai helm dan menyela motor.

Namun, sejujurnya, perasaan gue sedang tidak menentu waktu itu.

Bersambung ...




Rabu, 17 Agustus 2016

Cerbung : Dewi Zakia Maharani (6)


... Waktu itu gue adalah orang paling bahagia di dunia. Selepas pulang dari konser maliq and d'essentials, gue tidak mau langsung tidur. Gue ingin bermanja-manja sebentar untuk waktu yang lama. Gue liat langit malam yang cerah dan beberapa titik air di kaca jendela yang membiaskan lampu-lampu taman sisa dari hujan tadi sore. Seolah gue pengen mereka semua tau ada pelukan yang membahagiakan yang gue terima hari ini. Seolah gue pengen mereka tau bahwa harum parfum Dewi menempel permanen di jaket gue.

Jatuh cinta ini lebih indah dari apapun. Kacau.

Lalu gue membawa hp yang sedari tergeletak di kasur dan mengetik sebuah pesan singkat

"Hai kerinduan. Terimakasih untuk bahagia yang belum ditemukan satuan ini. Sehingga aku tidak tau satuan apa yang harus ku sematkan untuk mewakili kata sangat. Selamat malam :)"

Namun Dewi tidak membalas. Mungkin dia sudah tidur. Mungkin juga dia tidak mau menyalakan HP nya karena sedang sibuk menulis diary tentang hari ini bersama gue. Mungkin juga dia sedang curhat ke Ibunya sambil mengurai rambut panjangnya. Semua kata mungkin menjadi sangat indah saat ini. Menjadi sangaaat ... Ah jadi malu.

Matahari terbit dari arah timur seperti biasanya. Embun yg masih belum jatuh dari ujung daun menambah manisnya hari gue, yang malah bangun terlalu pagi.

Hari itu, gue jadi ahli senyum terbaik di dunia. Lalu gue memasak satu porsi Nasi Goreng yang di hias dengan acak-acakan untuk di berikan ke Dewi. Si ibu pun bertanya-tanya kenapa anaknya jadi seperti gak waras gini. Sampai dia gak percaya kalo gue adalah anaknya. Namun siapa peduli, gue lagi seru jatuh cinta kok.

Tiba di sekolah gue berjalan dengan kepala yang terdongkak ke atas karena tidak kesiangan, wakasek yang sudah mempunyai rutinitas menghukum gue harus kehilangan rutinitasnya sekarang. Gue duduk dengan manis di bangku sekolah sambil mendengarkan musik sambil menunggu si manis datang. Lagu-lagu dari Maliq and D'essentials semua.

Dari arah pintu masuk, terlihat Dewi datang di sela-sela cahaya matahari jam 07.45 WIB yg menyelusup ke dalam kelas. Gue menunggu dia dengan manis di bangku, lalu dia menghampiri gue. Tersenyum. Dan mengucapkan selamat pagi.

Dia duduk di depan gue, lalu dia cerita dengan tas yang belum sempat dia simpan. Katanya, semalam dia ngga bisa tidur karena keasyikan menulis cerita di Diarynya. Sampe 4 Halaman. Terus dia juga meminta maaf karena belum sempat bales sms gue, dia sedang ngga ada pulsa.

"Kamu tau ga? Aku bikinin sesuatu loh buat kamu." Ucap gue yg mencoba masuk di sela-sela obrolannya.

"Emmm apa itu?" Dengan muka yg penasaran.

"Aku bakal kasih ke kamu, tapi ada syaratnya."

"Ih apaan sih pake syarat-syarat segala. Kamu tuh kaya pemerintah yang lagi buka CPNS tau ga sih" Senyumnya mengembang menjadi sangat manis dengan status bencana.

"Haha. Bisa aja kamu. Gampang kok syaratnya. Pulang sekolah kamu temenin aku ke toko buku yuk? Aku mau beli bukunya Harold Robbins nih."

"Siapa tuh?"

"Dia penulis. Aku mau beli bukunya yg The Carpetbaggers. Novel lama sih, cuma katanya bagus."

"Emmm boleh deh. Lagian kebetulan aku lagi gak ada kegiatan sih hari ini"

"Asiiik. Nih hadiahnya. Nasi Goreng Spesial Cinta ala Chef Sandi" Dengan menyodorkan sebuah kotak nasi yg berisi nasi goreng. "Buat makan nanti siang. Semoga kamu suka yah." Lanjut gue.

"Iih so sweet. Tapi kamu ga usah repot-repot bawain aku ginian. Ga enak kan jadi ngurangin jatah makan kamu di rumah"

"Perutku perutmu kok. Jadi asal kamu kenyang, aku juga kenyang" Najis sih, tapi siapa peduli, lagi seru jatuh cinta soalnya.

"Ah dasar cowo gombal. Ya udah makasih yah. Aku ke bangku aku yah. Dadaaah" Dewi melambaikan tangan.

'Dadaaah' yang sebenarnya tidak perlu untuk jarak sedekat itu. Tapi, ya, cinta.

Satu persatu mata pelajaran gue lewati dengan bahagia. Setelah semuanya terlewati, gue menghampiri dewi.

"Yuk !"
"Yuk!"

Lalu kita berdua boncengan dengan mengendarai sang motor legendaris di jalanan yang hanya milik kita berdua. Dewi duduk menyamping dan melingkarkan satu tangannya di pinggang gue. Gue hanya bisa tersenyum sambil memberi kabar pada angin-angin nakal yg lewat meng-swiit-swiiw-kan gue.

Sesampainya di toko buku, gue langsung mencari buku yang gue cari. Pas di liat harganya, ternyata duitnya gak cukup. Maklumlah kantong anak SMA waktu itu tidak setebal kantong anak SMA sekarang.

"Emmm yang ... Duit aku gak cukup nih. Gimana kalo kita patungan? Buku ini jadi milik kita berdua deh. Tapi aku dulu yah yg bacanya"

"Boleh boleh. Nanti gantian yah bacanya."

"Baiklah. Okelah kalo begitu. Ayo kita ke kasir."

Teamwork yang manis,bukan?

Lalu gue pulang dengan sekantung buku dan membonceng seorang dewi.

Gue antarkan dia pulang ke rumah. Lalu ucapan sampai jumpa besok dan selamat tinggal mengakhiri pertemuan kita untuk hari itu.

Gue pulang dengan headset yg terpasang di telinga. Gue nyanyi-nyanyi sumringah selama di jalan. Lalu gue melihat bendera kuning di depan rumah Rena. Seketika gue berhenti dan langsung masuk ke dalam.

"Rena .."

Lalu, pelukan yg bercampur air matanya rebah di dada gue.

Bersambung ...

Rabu, 10 Agustus 2016

Cerbung : Dewi Zakia Maharani (5)

... Dengan tas selempang yg berbahan jeans dan jaket hitam kesayangan, gue berjalan menuju parkiran motor lalu menyambangi motor astrea grand yg sangat legendaris di mata motor-motor sebelahnya. Lalu gue memakai helm dan mulai bersiap untuk menyela motor yang umurnya hampir sama kaya gue itu.

Motor legendaris ini tidak mau nyala, ternyata bensinnya abis. Mampus ! gue lupa ngisi bensin, akhirnya mau gak mau gue harus mendorong si legendaris ini menuju pom bensin. Di bawah teriknya matahari, gue mendorong sepeda motor gue dengan sangat dramatis. Lalu-lalang orang lewat dgn kendaraannya seperti menertawakan gue yang gendut dan keringatnya hampir bikin banjir kota. Gue pasrah saja.

Setelah sekitar 800 meter gue memapah motor legendaris ini hingga akhirnya gue menemukan POM bensin. Lalu, dari arah selatan gue liat seorang cewe sedang mengendarai motor matic dengan helm berwarna putih. Gue sudah bisa menebak dia dari kejauhan. Yap. Itu Dewi sedang mengisi bensin juga.

"Eh dew, ngisi bensin juga?"
"Iya san. Ini bensin gue hampir habis"
"Gue malah udah habis bensin dari sekolahan. Haha" Dengan sedikit tertawa, gue mencoba agar tidak terlihat canggung.
"Serius? Jadi kamu ngedorong motor dari sekolah kesini dong?"
"Iya dew. Bahkan tadi jalan sekolah kita hampir banjir sama keringet gue"
"Haha. ya gapapa lah. Lo kan jadi keliatan langsing"

"Makan siang bareng yuk?"

Entahlah. Secara ajaib gue ngucapin itu. Tidak ada panik atau resah seperti biasanya, ini terasa mengalir. Sepertinya semesta sudah merestui.

Lalu Dewi tersenyum lebar sampai-sampai matanya melengkung indah terdorong pipi chubby nya. Seraya mengatakan "Yuk. Dimana?"

"Gue punya tempat makan yang enak. Nanti gue tunjukin."

Setelah kita ngisi bensin, gue menyalakan motor lalu pergi ke tempat makan, di ikuti oleh Dewi. Gue ngajak dia ke tempat baso langganan gue.

"Pak, basonya dua yah. Yang saya airnya dikit aja, jangan pake mie, togenya yang banyak. Lo gmna dew?"
"Saya basonya aja, airnya agak banyak ya pak"

Lalu gue mencari tempat duduk untuk kita berdua.

"Jadi dew, lo ga ada kegiatan hari ini?" Gue mencoba membuka topik.
"Ngga san. Tadinya mau ke rumah Tina buat ngerjain PR, tapi dia ada acara mendadak gitu."
"Ooh. PR Fisika itu yah?"
"Iya. Lo udah ngerjain?"
"Udah dikit,"
"Eh liat dong. Gue belom banget nih"
"Emmm di kasih liat ga yaah .." Gue menggoda.
"Kasiih dong. Pleaseee"
"Ok gue kasih liat, tapi ada syaratnya"
"Ah basi lo, cuma liat PR doang juga ada syaratnya. Dasar Pelit !"
"Ehh ngga gue ga pelit"
"Dasar sandi pelit ! sandi pelit"
"ngga ngga ngga ngga ngga ngga ..."
"... iya iya iya iya iya"

Lalu kita ketawa bareng.

"Haha. Kek bocah ya kita" Ucap dewi sambil masih menyelesaikan sisa tawanya
"Iya iya. Lo sih yang mulai."
"Idiih, orang lo duluan yg mulai"

"Den, ini baksonya" Mang Karjo memecah percakapan kami.
"Oh iya mang."

Lalu, dari dua mangkuk baso itu, gue jadi tau, ternyata Dewi orangnya nyenengin juga. Gue ngerasa nyambung. Gue ngerasa restu semesta sudah sangat jelas.

Keesokan harinya, di sekolah gue jadi lebih deket sama Dewi. Setiap jam istirahat, kita ke kantin berdua, kadang juga kita ke perpustakaan, nyari tugas bareng, dan kadang gue nganter Dewi kalo dia kebetulan lagi ga bawa motor. Waktu itu, kita jadi dua manusia yang sangat nyambung.

"Dew, malam minggu ini ada acara ga?" Gue bertanya ke Dewi.
"Emmm ngga sih san. Ada apa emang?"
"Jalan yuk? Kebetulan malam minggu ini ada acara musik gitu. Guest starnya Maliq and D'Essentials."
"Wiiih maliq, ayo ayo, tapi lo izin dulu ke bokap gue yah?"
"Beres. Ya udah, nanti, malam Minggu, gue jemput jam 7 Malem yah."
"Ok."
"Jangan dandan yah !"
"Loh kenapa emang san?"
"Jangan lah, kalo cewe secantik lo dandan, kasian cewe jelek yg dandan, mereka akan ngerasa gak percaya diri ntar"
"Apaan sih. Gombal lu ya."
"Idiih ngga, gue itu orang jujur kedua di dunia, jadi mana mungkin gue bohong"
"Apaan sih lo" sambil tangan mungilnya mencubit pipi kanan gue.
Lalu, kita berdua jalan ke kelas sembari menghabiskan sebungkus es teh manis.

Tuhan, Gue bener-bener jatuh cinta.

Malam Minggu yg di nantikan pun tiba. Gue bingung pilih baju apa. Segala macem kombinasi udah gue coba, namun tetep aja ga ada yg pas. Mungkin, jatuh cinta telah membuat gue yang cuek, menjadi gue yg perfeksionis. Akhirnya gue memutuskan untuk memakai kaos warna hitam dan hoodie warna putih. Gue rasa stelan casual kaya gini cocok untuk anak SMA yg nonton acara musik. Ga lupa gue semprotkan minyak wangi di area sekitar bahu, karena itu bakal jadi area terdekat dari hidung Dewi. Gue pengen bau parfum gue, selamanya akan menjadi milik gue di ingatannya Dewi.

Lalu, Gue meluncur dengan sang motor legendaris menuju ke rumah Dewi.

Sesampainya disana, gue mengetuk pintu pelan. Lalu, setelah sebuah pintu terbuka, gue senyum menahan bahagia. Dewi memakai kaos hitam dgn cardigan warna putih.

"dih, kok kita samaan sih?" Ujar gue heran menahan senyum
"ih iya. Kok bisa samaan yah."
Lalu kita berdua ketawa-ketawa.

Ah, semesta, bisa aja.

Setelah itu, gue pamitan kepada papahnya Dewi, sun tangan dan berjanji akan mengantar pulang dewi sebelum jam 10 malam.

"Bau parfum lo enak" Dewi memuji.
"Serius? Udah lama sih gue pake ini."
Terasa dewi membenamkan mukanya ke pundak gue. Waktu itu, gue hampir mati menahan bahagia.

Ketika tiba di tempat tujuan, gue menuntun Dewi menuju panggung utama. Lalu, 30 menit kemudian, Angga dan kawan-kawan bersinar seperti seharusnya. Gue memperhatikan Dewi tanpa bosan. Cahaya panggung yg warna-warni membuat wajahnya semakin manis.

Gue menikmati pertunjukan Maliq and D'Essentials melalui binar mata Dewi yg bahagia.

Lalu, sampai pada lagu Himalaya, gue melihat senyumnya mengembang.

'Himalaya ...
Bahkan akan aku taklukan ...
Tanpa cahaya di kegelapan ..
berbalutkan pelita hatimu....'

Dewi menyandarkan kepalanya ke gue, secara spontan gue peluk dia dari belakang. Lalu, Ia melihat muka gue sambil tersenyum.

Dan diantara riuhnya penonton yg bernyanyi, gue menciptakan ruang antara mata gue dan mata dewi.

"I Love You"
"I Love You Too"

Lalu dia kembali mengarahkan perhatiannya ke panggung, dan gue, mencium rambutnya yg harum dengan sangat bahagia.

Lalu setelah lagu setapak sriwedari menjadi penutup. Gue menghantarkan dewi pulang. Tidak terlalu banyak kata yg tersampaikan selama perjalanan pulang, mungkin sama-sama sedang menahan malu dan bahagia.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 21.30 WIB.

Di depan gang rumahnya, dia bertanya.
"Lo beneran sayang sama gue?"

Gue memegang pundaknya, menatap matanya dalam, mencoba memberi jalan untuk hati kita agar bertemu, lalu gue mengecup keningnya.

"Gue sayang sama lo"

Dan sebuah pelukan melepas kebahagiaan kita malam itu. Kita resmi jadian.

Bersambung ....