Senin, 04 April 2016

Dambaan


Hai semuanya.

Udah lama banget ga nulis di blog. Gue sibuk. Haha. Kangen deh rasanya berbagi disini.

Hari ini gue lagi agak ga enak badan nih. Badan panas,flu di sertai batuk dan agak lapar sih. Hari ini gue mau membahas tentang si dambaan hati. Ini pembahasannya klasik banget yah,cinta-cintaan, haha gapapa lah.

Jadi gini, gue punya dambaan yang udah gue kejar selama setahun lebih, namun cinta masih belum menemui persimpangan hati yang membuat hati kita bertemu lalu berjalan bersama.

Selama ini, setiap kali gue melakukan kesalahan, gue selalu evaluasi dan gue ngerasa gue yang sekarang udah lebih baik daripada gue yang dulu. Gue yang sekarang udah mulai bisa ngomong normal depan dia, beda sama gue yang dulu yang begitu kikuk kalo ngobrol depan dia sehingga ngomong jadi ngelantur dan gak kontrol. Gue yang sekarang udah mulai rapih, mulai belajar menghargai penampilan, karena gue belajar bahwa penampilan adalah modal awal seorang pria. Gue yang sekarang jadi lebih care sama dia, meskipun tidak se-intensif orang tuanya. Gue mulai nyaman ngobrol panjang lebar dan gue sudah bisa jadi diri gue sendiri di depan dia, si dambaan hati.

Tapi ya namanya hati orang ga bisa di paksa, secara perlahan gue berubah buat dia. Gue melayakkan diri agar dia bisa nerima gue. Ada temen gue yang nanya, ‘san kenapa lu suka sama dia?’, gue gatau. Sumpah. Kenapa yah, kadang pertanyaan itu juga yang gue lempar ke diri sendiri. Kenapa gue mau bertahan selama ini? Kenapa perasaan ini ga ilang-ilang? Kenapa juga gue harus milih dia, diantara jutaan cewe di dunia ini.

Lucu yah, ketika lo suka sama seseorang namun tak berbalas tapi perasaan cinta itu ga ilang-ilang.

Untuk orang-orang kaya gue, mungkin lo semua melakukan apa yang gue lakukan. Menyisipkan namanya di setiap ibadah, mengkhawatirkan dia kalo dia sedang sakit, memberi kejutan-kejutan kecil meskipun bukan lewat tangan kita, mengagumi dia saat dia sedang bersama teman-temanya dan menjadi orang yang paling tulus di banding lelaki lain di dunia.

Namun dambaan, di balik rasa cinta yang susah luntur ini, ada ketakutanku akan dirimu.

Gue takut bahwa mungkin suatu saat rasa ini hilang dan kamu kehilangan do’a yg tulus, do’a yang bisa saja menjagamu dari musibah-musibah kecil, misalnya do’a yang membuat dosen galak mendadak baik saat kau terlambat masuk, do’a yang membuatmu mendapatkan teman-teman yang baik dan gelak tawa yang menghibur dirimu, do’a yang menghambat hujan sehingga kau pulang tanpa kehujanan, do’a yang membuatmu tak merasa kesepian dan hal-hal lain yang melancarkan aktifitasmu.

Bahwa mungkin gue tidak punya banyak kesempatan untuk sekedar memberimu coklat karena jarak yang jauh, mungkin nanti kamu sedih karena kekasihmu egois dan mengecewakanmu, trus gue  gak ada saat kamu butuh hiburan. Kekasihmu yg tidak selembut dan sepenyayang gue.

Bahwa mungkin gue tidak punya waktu untuk sekedar datang ke rumahmu dan bercengkrama sampai jam 8 malam. Mungkin nanti gue bakal sibuk dengan pekerjaan, tour sana sini,memperbaiki saluran air yang bocor di rumah masa depan nanti, servis mobil, berkebun, liburan dan berbagai aktivitas yang menyibukkan.

Gue takut bila nanti kamu membutuhkanku namun aku malah tak ada untukmu, karena rasa yang sudah hilang, jarak yang jauh, waktu yang tak bisa disempatkan atau hati ini sudah menemui hati yang lain untuk bersama.

Hanya ketakutan kecil ini yang ngeganggu pikiran gue untuk beberapa saat di setiap momen. Gue takut kamu sedih.

Tapi, entahlah. Yang bisa gue lakuin sekarang adalah berinvestasi do’a untukmu agar kelak kamu mendapatkan lelaki yang tidak membuatmu sedih, lebih tulus dari orang gendut ini dan bisa membuatmu lupa bahwa pernah ada seseorang yang begitu menyayangimu di masa lalu.

Jika pada saatnya nanti gue pergi, yakinlah, sebelum gue keluar dari pagar rumahmu, gue udah bersyukur karena pernah mencintaimu hingga sedalam ini.

Rabu, 23 Maret 2016

Surat Untuk Cinta

Cinta, apa kabar?

Saya sedang duduk dengan sepi yang ramai. Menutup resah untuk waktu yang terus tega pada saya.

Cinta, tolong penderitaan saya. Pergi ternyata tidak membuat saya menjadi orang yang mampu menelan dunia sendirian. Saya menjadi orang yang tak pernah berdamai dengan kedamaian. Saya menulis jutaan air mata dengan bayangan kamu. Kerinduan yang mengeroposkan tiang kekokohan prinsipku, hingga akhirnya saya datang kesini untuk mengatakan sekali lagi bahwa saya benar-benar mencintai kamu.

Apakah saya bodoh? Tentu tidak,cinta. Saya tidak mencintaimu dengan bodoh. Rasa yang menggebu-gebu dalam setiap tanda tanya ini selalu belajar setiap waktu. Bahkan mungkin, di waktu yang sama saat kamu bertanya-tanya juga. Dari semua pelajaran yang saya dapat tentang waktu dan kamu, saya mengerti bahwa kamu harus saya jemput. Saya sudah pulang.

Saya pulang untuk sekedar minum kopi dan menulis ini untukmu. Saya berusaha membuat surat ini semanis mungkin, namun kamu tau saya payah. 
Tidak, bukan kopi yang membuat surat ini terasa manis. Namun, beberapa hal tentang kita dan gebu yang hendak menghamba pada inangnya.

Saya ingin kamu menjadi kekasih saya, cinta.

Saya tidak bisa bertahan selamanya. Saya akan tua dan menjadi bangkai seperti manusia pada akhirnya. 

Namun, saya tidak ingin menjadi bangkai yang mati dalam tanda tanya.
Semoga kamu mengizinkan itu.

Sabtu, 20 Februari 2016

Andai aku langit senja


Namanya juga cinta. Jika di suruh bercerita, mungkin beberapa orang akan bingung darimana harus memulai. Tapi kalo gue yang di suruh bercerita, gue tau darimana gue harus memulai.

Namanya lara, begitulah gue menamainya. Dia adalah seorang wanita berdarah sunda jawa yang sangat mempesona. Jika sedang berbicara, kata-kata yang terucap seperti siraman rohani, bikin adem. Jika sedang berjalan, dia selalu tersenyum, seolah dia adalah manusia yang paling tidak punya masalah di seantero galaxi bimasakti ini. Dia adalah sosok manusia hampir sempurna yang mungkin sengaja tuhan ciptakan untuk membuat salah satu mahluk di dunia jatuh cinta. Mahluk itu bernama gue.

Gue adalah teman satu kampusnya dia. Namun kehidupan kita berbeda. Gue yang lebih sering ngumpul sama orang-orang yg merupakan penjelmaan seluruh ketidakjelasan dunia, sementara dia gaulnya sama cewe pinter yang hits. Di gengnya, ada mantan juara olimpiade nasional, ada yang pernah ke swiss karena pertukaran pelajar, ada yang suka bikin jurnal sampai pernah di terbitin di majalah anu, itu majalah jurnal dunia yang paling bagus dan banyak dicari. Sementara di geng gue Cuma sekumpulan orang yg suka narasi gak jelas sambil pegang mic di hadapan banyak orang yg gak jelas juga. Iya, kita stand up comedian atau biasa di sebut comic.

Sebuah keadaan yang sangat dramatis jika akhirnya gue, seorang lelaki gak jelas dan cenderung aneh ini akhirnya jatuh cinta pada gadis manis berotak einstein.

Semua ini bermula pada sebuah dzuhur di 13 Oktober 2013. Waktu itu gue menunaikan sholat dzuhur, 4 rakaat dan di awali dengan niat. Setelah salam dan dzikir sebentar lalu gue tiduran di masjid. Kebetulan di belakang tempat ikhwan sholat adalah tempat ahwat sholat. Tanpa sengaja gue tiduran menghadap ke arah belakang. Disana ada seorang gadis bermukena sedang menghadap penciptanya. Bermata sayu dia melafalkan setiap bacaan sholat. Dalam hati gue bergumam “Gile, asooy, amboii, ternyata sekarang bidadari juga bisa kuliah. Kayanya mau jadi S1, biar kasta kebidadariannya naik satu level”. Lalu disitulah pertemuan jatuh cinta pertama gue dengan Lara.

Setelah dia mengucapkan salam, lalu dia mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah manisnya. Dia tak sedikitpun melihat cowo yang sedang tiduran mentafakuri ciptaan Tuhannya. Lalu dia melepas mukena yg dia pakai dan mulai keluar masjid bersama geng hitsnya. Meskipun semua cewe di gengnya cantik-cantik, tapi entah kenapa dia yang paling bersinar sendiri. Rasanya gue selalu pengen pake kacamata item tiap ketemu dia. Rasanya pengen gue pengen mengganti matahari sama dia, soalnya dia mah bersinarnya bikin adem.

Lalu gue berfantasi lebih.

Jika seandainya suatu saat gue pacaran sama dia, gue pengen ajak dia flying fox dari menara eiffel ke istana buckingham. Lalu gue ajak dia mengarungi samudra pasifik sampai ke atlantik dan menyaksikan megahnya milky way langit atlantik. Lalu gue ajak dia menikmati ramen panas di musim dingin jepang yg bersalju. Lalu gue ngajak dia berdansa di italia, menikmati alunan musik klasik sambil perlahan membisikan “kamu adalah pemeran utama dalam setiap adegan rindu di khayalku”. Lalu kita ke venesia, menikmati sore sambil memakan pizza yang di bumbui dengan tawa manismu yang tercipta karena jokes-jokes ringan dari gue yg lihai melucu ini. Lalu kita ke cebu di philipina dan menikmati setiap jengkal cinta yg membuat kita bersama disana. Hingga akhirnya kita kembali ke indonesia dan bertemu dengan jokowi untuk penobatan pasangan paling cocok nasional.

Lalu kita pulang ke bandung dan menikmati susu murni KPBS pengalengan di alun-alun sambil menatap senja disana.

Gue sudah memikirkan banyak hal tentang dia.

Hari itu adalah harinya dia. Gue mengintip di sela-sela jendela saat dia sedang belajar. Dia tidak menyadarinya. Mungkin dia juga tidak menyadari bahwa dia benar-benar manis.

Hari itu, gue jadi manusia yang jatuh cinta sejadi-jadinya. Andai gue adalah sebidang tanah, mungkin bunga-bunga dari seluruh dunia sudah tumbuh. Andai gue langit senja, mungkin angin gunung sedang turun ke dataran dan menyejukkan orang-orang yang sudah lelah bekerja. Andai gue pohon nangka, mungkin gue akan berbuah apel. Andai gue COC, mungkin sekarang gue sedang war dan meraup elixir sebanyak 2 jt. Namun gue hanya manusia yang hanya bisa mewakili rasa bahagia dengan alhamdulilah.

Alhamdulilah, gue jatuh cinta.

Ketika gue di parkiran hendak berjalan pulang. Dia datang. Gue deg-degan. Lalu dia tersenyum sambil berlari kecil. Gue hampir mimisan. Semakin dia mendekat semakin gatau gue harus ngapain. Tapi dia melewati gue dan mendaratkan satu kecupan di pipi lelaki bermotor ninja yang berjarak sekitar  1 meter dari tempat gue terluka. Lalu gue melihat lara naik motor ninja itu dan tertegun gue memandang kiamat subro di depan mata. Yang tersisa waktu itu hanya, wangi parfumnya yg bercampur dengan parfum si kampret dan sepatu bolong karena terlalu banyak di pakai berjalan kaki dan dia lagi hamil. Wah ternyata dia sudah menikah. Waah absurd. Waah pada nyesel deh.

Akhirnya kisah cinta ini selesai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Senin, 08 Februari 2016

Kipas Angin


Selamat malam. Kamu. Dia. Mereka dan Tata Surya.

Seperti biasa, aku sedang duduk di lantai tak berkursi. Aku menyeduh secangkir teh dengan satu sendok gula yg dilarutkan di dalamnya. Sejenak, asap tipis mengepul dari cangkir. Aku diamkan beberapa menit lalu aku minum. Mhhh manis, namun panas. Seperti rasa yang tertinggal.

Aku berusaha sesederhana mungkin malam ini. Membuat segalanya menjadi terlihat simple. Namun aku tak bisa. Aku tak bisa menjadi sederhana. Segalanya menjadi terasa sangat kompleks bagiku. Setelah kau-yang-merupakan-hal-tersederhana-dari-bagian-hatiku menjadi biasa saja.

Di hadapanku ada kipas angin,

aku jadi berputar-putar. Searah dengan putarannya dan menjadi pusing.  Aku mencoba terus bertahan dalam putarannya. Berharap aku bisa menjadi lebih baik setelah merasakan putarannya. Aku harap putaran kipas angin ini bisa memberikan efek yang sama seperti kicir-kicir di dufan. Setelah berhenti, aku jadi ketawa. Namun kipas tidak berhenti-berhenti. Aku terus berputar. Aku mual dan aku pergi dari baling-balingnya.

Lalu aku masuk ke dalam jaringan listriknya dan mencoba menjadi tombol di kipas itu. Disini aku merasa tenang. Tombol ketiga yang paling cepat aku diami. Namun, lama kelamaan aku merasa jenuh. Tidak terjadi apa-apa disini. Aku pikir ini hal yang tidak asyik. Jenuh. Tidak ada pergerakan apapun.

Aku menyadari bahwa aku harus mencari sesuatu yang mampu membuatku berhenti mencari.

Aku akan mencarimu.

Lalu aku masuk ke aliran listrik,masuk ke dalam jaringan listrik kota dan hendak mencari alamat rumahmu. Aku bertanya pada data di komputer dinas kependudukan yang sedang di operasikan oleh seorang pekerja honorer yang sedang lembur. Dia memberiku sebuah alamat, lalu aku bergegas menuju kesana. Ternyata jalan dalam jaringan ini sungguh rumit.

Aku nyasar beberapa kali.

Aku nyasar ke sebuah tv di pasar yang sedang di tonton banyak orang. Disana banyak orang yang tidak seberuntung aku. Kuli-kuli yang lelah dengan tangan kotor bekas tepung dan beras sedang menikmati santap malamnya. Mungkin ini makan kedua mereka di hari ini, setelah sarapan. Wajah-wajah yang sebenarnya ingin pulang membawa mainan ke rumah saat di tanya bapa bawa apa oleh anaknya,namun tak bisa. Syukurlah mereka bukan bajingan selayaknya koruptor yang tidak merasa cukup.

Aku melihat ibu-ibu gendut penjual nasi masih setia tersenyum dalam wajah yang kasar dalam kerudungnya yg tanpa make up. Aku taksir dia 40 tahunan dan beranak dua. Aku melihat anak yang pertama membantu ibunya mencuci piring di dapur yang kotor dan si bungsu sedang tidur dengan pulasnya di bawah kolong meja yang atasnya adalah makanan semua. Lalat-lalat liar sedang mengerumuninya.  Mungkin juga dia janda, karena aku tidak melihat laki-laki disampingnya. Mungkin mungkin dia di tinggal lari suaminya. Mungkin juga suaminya adalah TKI dan belum pulang sampai 6 kali lebaran. Lebih kasar dari bang toyib. 

Lalu dia seperti izin kepada para tamu dan pergi ke dapur meninggalkan warungnya. Aku pikir kemana dia? Kok dia bisa-bisanya meninggalkan warung yang sedang ramai. Lalu dia kembali dengan tangan yang basah. Ah aku pikir dia sudah mencuci piring. Lalu dia mengeluarkan mukena dan sajadah, lalu di amparkannya sajadah itu dengan beralas kardus. Dia solat Isya dengan khusyu. Aku terenyuh di balik layar TV. Miskin tidak menjadikan seseorang lupa pada-Nya. Aku melihat pada diriku. Jika aku di posisinya, aku tidak akan setangguh itu. Dalam hati aku bergumam agar ibu itu selalu di berikan rezeki dan ketabahan seluas semesta.

Aku kembali mencari rumahmu.

Lalu aku sampai pada sebuah telepon yang tersambung charger. Aku melihat sekitar lewat kamera HP dan layarnya. Aku melihat tirai putih,kasur dan 4 orang yang terdiri atas 3 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang berhalis tebal. Ternyata aku sedang ada di rumah sakit. Hendak, keluar dari situ, namun tiba-tiba speaker di HP itu menahanku, lalu aku mendengar lafadz alloh di kumandangkan dengan di barengi dengan tangis yang menderu-deru. Rupanya seorang sedang dalam sakaratul mautnya. Namun dia tidak juga meninggal. Lalu HP yang aku diami tercabut dan di bawa keluar, aku sempat panik karena aku takut terjebak disini, namun data dalam hp itu memberitahuku bahwa sebentar lagi akan ada panggilan. Aku harus mendengarkan katanya.

Dalam panggilan itu, aku mendengarkan dua percakapan antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki. Sepertinya percakapan antara cucu dan neneknya. Aku mendengar di balik tangis laki-laki itu agar neneknya memaafkan segala kesalahan ayahnya yg sedang sekarat, dia bilang bahwa nenek harus memaafkan ayahnya agar ayahnya mampu pergi dengan tenang. Rupanya, ada air mata pedih seorang ibu yang mengganjal sakaratul mautnya. Lalu aku mendengar kata iya dan tangis seorang wanita yang memecah setelahnya.

Lalu telepon di tutup dan satu panggilan lagi. Ada seorang wanita lagi yang menjawab di seberang sana. Anak laki-laki ini memanggilnya ibu. Aku bingung apa yang terjadi. Siapa perempuan tadi?. Lalu hal yang sama di ucapkan. Dia bilang bahwa ibu lupakan saja perselingkuhan ayah dan maafkan dia. Lalu beberapa saat ibu itu diam dan terdengar isak-isak tangis di seberang telepon. Rupanya ada sakit hati seorang perempuan yang belum selesai  di tinggalkan laki-laki yang sedang dalam sakaratul maut ini. Lalu ibunya menjawab iya. Nadanya sangat ikhlas dan lembut. Ibunya memberitahukan bahwa besok dia akan melayad. 

Telepon di tutup. Lalu anak laki-laki ini kembali ke kamar. Suasana sudah hening dipenuhi dengan tangis yang tak bersuara. Tangis yang sangat dalam. Lalu aku memaksa sistem untuk me-lowbat-kan HP. Akhirnya, HP di charge dan aku kembali bisa mencarimu. Sebelum pergi, aku mendo’akan jenazah agar di terima di dunia dan akhirat.

Aku kembali mencari rumahmu.

Akhirnya, setelah nyasar sana-sini. Aku tiba di rumahmu. Aku masuk ke dalam HPmu yang sedang di charge dan aku melihatmu, dambaanku, yang sedang tertidur pulas. Bibir yang selalu tersenyum sekarang berubah jadi tanpa ekspresi. Aku memperhatikan setiap detilmu dan bersyukur karena aku belum berhenti bersyukur dapat berkenalan denganmu meskipun aku sudah menjauh.

Aku senang sudah sampai rumah ini. Aku sudah sampai pada dirimu dalam bentuk diriku yang fiksi. Ternyata, proses menemukanmu mengajarkanku banyak hal.

Aku menjelajahi isi HPmu dan meninggalkan sebuah pesan di note HPmu.

“Duhai dambaan, jagalah hatimu untuk yang pantas. Jangan terlalu terburu-buru, cinta bukan motor GP. Perjalananku kesini, membuatku semakin tau dan mungkin sebentar lagi bisa pantas. Semoga kelak kau adalah perhiasan duniaku, salah satu dari hal yang membuat sakaratul mautku menjadi mudah. Selamat tidur.”

Lalu aku pulang kembali ke kosan. Duduk di depan laptop,menghabiskan teh yang sudah dingin dan menyelesaikan kalimat terakhir ini dengan pelajaran hidup yang didapat.

Jumat, 05 Februari 2016

Temui aku di musim hujan


Nemu ini di dokumen. Lupa belum di posting. Lumayan.

Selamat Sore sejuk semilir angin 1 februari 2016.

Haru yang melankolis di depan gedung A yang sedang di lagukan nina bobo oleh angin dingin musim hujan. Aku hanya di temani oleh sepi yang sedang menari-nari di depan mata dan 2 pasang daun yang baru saja jatuh dari pohon. Melayang-layang, seolah menemani sepi dalam tariannya.

Hal yang membuatku melankolis hari ini adalah seorang wanita yang memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik. Aku merayakannya dengan menulis di atas lembar virtual. Mungkin tidak hanya aku, semesta pun ikut merayakannya. Merkurius sedang berbincang dengan venus, mereka mengatakan ada seorang mahluk bumi yang sedang bahagia. Andromeda memeluk rasi bintang sagitarius, menunjukkan betapa bahagianya dia melihatmu begitu. Sementara bumi melambatkan rotasinya dan membuatkanku banyak waktu untuk menuliskan ini. Terimakasih semesta.

Tidak ada yang terlambat untuk berubah terhadap sesuatu yang lebih baik. Seperti luka yang bercucuran darah, dia harus berusaha untuk berubah agar menjadi kulit yang halus kembali. Semua manusia berhak untuk berubah. Tidak untuk menjadi suci, namun untuk menjadi lebih baik. Namun untuk menjadi contoh baik untuk generasi selanjutnya.

Aku sangat bersyukur. Mungkin setelah ini aku akan lebih jauh, maksudnya mungkin setelah ini aku harus lomba lari di sirkuit dengan orang lain yg memakai motor 500 cc. Tapi gapapa, aku ambil aja hikmahnya. Bahwa mungkin keterbatasan dalam mencintai itu memang benar-benar ada. Cinta kepada manusia diciptakan oleh manusia dan segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia ada batasnya. Mungkin aku sudah sangat di ujung batas saat mencintaimu. Aku harus mencari batas lain yang mungkin bisa memaklumi keterbatasanku. Mungkin lebih halusnya, relakan saja.

Aku sudah ikhlas. Mungkin aku harus mencari wanita yang juga random dan cara berpikir yang sama. Agar bisa nyambung dengan pola pikir yang isu nya di gunakan oleh kebanyakan orang cerdas ini. Awalnya aku pikir perbedaan diantara kita akan membuat kita keren. Tapi pada kenyataannya tidak. Kita berada pada lingkaran perbedaan yang harus terpisah seperti burung dan ikan paus. Bukan pada lingkaran perbedaan yang keren seperti warna dalam pelangi.

Awalnya aku pikir, kita bisa saling mengucapkan selamat malam dalam beberapa tahun kedepan dan merayakan lucunya anniversary yg sederhana.

Namun kenyataannya tidak. Lemak dalam tubuhku ini menutupi semua rasa tulus. Dunia yang berkonspirasi dengan beberapa lelaki membuatku terjungkal terjun bebas menuju laut lepas. Kenyataannya, hidup tak seperti FTV. Protagonis selalu menang dan mengibarkan bendera setelah perjuangan. Dalam kehidupan, Protagonis ada kalanya gagal dan ceritanya selesai. Dalam FTV, protagonis tidak akan gagal. Sekalipun gagal, FTV nya belum selesai.

Aku dan kamu tidak akan bisa menjadi kita.
Aku dan kamu memang hanya tertakdir untuk jadi bagian dari mereka. Hanya itu.