Hai semuanya.
Udah lama banget ga nulis di blog. Gue sibuk. Haha. Kangen
deh rasanya berbagi disini.
Hari ini gue lagi agak ga enak badan nih. Badan panas,flu di
sertai batuk dan agak lapar sih. Hari ini gue mau membahas tentang si dambaan
hati. Ini pembahasannya klasik banget yah,cinta-cintaan, haha gapapa lah.
Jadi gini, gue punya dambaan yang udah gue kejar selama
setahun lebih, namun cinta masih belum menemui persimpangan hati yang membuat
hati kita bertemu lalu berjalan bersama.
Selama ini, setiap kali gue melakukan kesalahan, gue selalu
evaluasi dan gue ngerasa gue yang sekarang udah lebih baik daripada gue yang
dulu. Gue yang sekarang udah mulai bisa ngomong normal depan dia, beda sama gue
yang dulu yang begitu kikuk kalo ngobrol depan dia sehingga ngomong jadi
ngelantur dan gak kontrol. Gue yang sekarang udah mulai rapih, mulai belajar
menghargai penampilan, karena gue belajar bahwa penampilan adalah modal awal
seorang pria. Gue yang sekarang jadi lebih care sama dia, meskipun tidak se-intensif
orang tuanya. Gue mulai nyaman ngobrol panjang lebar dan gue sudah bisa jadi
diri gue sendiri di depan dia, si dambaan hati.
Tapi ya namanya hati orang ga bisa di paksa, secara perlahan
gue berubah buat dia. Gue melayakkan diri agar dia bisa nerima gue. Ada temen
gue yang nanya, ‘san kenapa lu suka sama dia?’, gue gatau. Sumpah. Kenapa yah,
kadang pertanyaan itu juga yang gue lempar ke diri sendiri. Kenapa gue mau
bertahan selama ini? Kenapa perasaan ini ga ilang-ilang? Kenapa juga gue harus
milih dia, diantara jutaan cewe di dunia ini.
Lucu yah, ketika lo suka sama seseorang namun tak berbalas
tapi perasaan cinta itu ga ilang-ilang.
Untuk orang-orang kaya gue, mungkin lo semua melakukan apa
yang gue lakukan. Menyisipkan namanya di setiap ibadah, mengkhawatirkan dia
kalo dia sedang sakit, memberi kejutan-kejutan kecil meskipun bukan lewat
tangan kita, mengagumi dia saat dia sedang bersama teman-temanya dan menjadi
orang yang paling tulus di banding lelaki lain di dunia.
Namun dambaan, di balik rasa cinta yang susah luntur ini,
ada ketakutanku akan dirimu.
Gue takut bahwa mungkin suatu saat rasa ini hilang dan kamu
kehilangan do’a yg tulus, do’a yang bisa saja menjagamu dari musibah-musibah
kecil, misalnya do’a yang membuat dosen galak mendadak baik saat kau terlambat
masuk, do’a yang membuatmu mendapatkan teman-teman yang baik dan gelak tawa
yang menghibur dirimu, do’a yang menghambat hujan sehingga kau pulang tanpa
kehujanan, do’a yang membuatmu tak merasa kesepian dan hal-hal lain yang
melancarkan aktifitasmu.
Bahwa mungkin gue tidak punya banyak kesempatan untuk sekedar
memberimu coklat karena jarak yang jauh, mungkin nanti kamu sedih karena
kekasihmu egois dan mengecewakanmu, trus gue
gak ada saat kamu butuh hiburan. Kekasihmu yg tidak selembut dan sepenyayang gue.
Bahwa mungkin gue tidak punya waktu untuk sekedar datang ke
rumahmu dan bercengkrama sampai jam 8 malam. Mungkin nanti gue bakal sibuk
dengan pekerjaan, tour sana sini,memperbaiki saluran air yang bocor di rumah
masa depan nanti, servis mobil, berkebun, liburan dan berbagai aktivitas yang
menyibukkan.
Gue takut bila nanti kamu membutuhkanku namun aku malah tak
ada untukmu, karena rasa yang sudah hilang, jarak yang jauh, waktu yang tak
bisa disempatkan atau hati ini sudah menemui hati yang lain untuk bersama.
Hanya ketakutan kecil ini yang ngeganggu pikiran gue untuk
beberapa saat di setiap momen. Gue takut kamu sedih.
Tapi, entahlah. Yang bisa gue lakuin sekarang adalah
berinvestasi do’a untukmu agar kelak kamu mendapatkan lelaki yang tidak
membuatmu sedih, lebih tulus dari orang gendut ini dan bisa membuatmu lupa
bahwa pernah ada seseorang yang begitu menyayangimu di masa lalu.
Jika pada saatnya nanti gue pergi, yakinlah, sebelum gue
keluar dari pagar rumahmu, gue udah bersyukur karena pernah mencintaimu hingga sedalam ini.